3 Penyakit Remaja Akibatkan Serangan Jantung & Stroke

Artikel ini terakhir di perbaharui October 3, 2020 by Rinaldi Syahran
3 Penyakit Remaja Akibatkan Serangan Jantung & Stroke
Dokter mengecek jantung dengan ECG line dan stetoskop - freepik/chainfoto24

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ada beberapa penyakit pada remaja yang sangat berbahaya jika tidak di sadari secara dini. Saat ini kebanyakan remaja tidak mengetahui bahwa mereka banyak mengidap diabetes tipe 2, obesitas dan tekanan darah tinggi yang memiliki risiko lebih besar mengalami penuaan dini pada pembuluh darah. Efeknya akan terasa sebelum mereka menginjak usia 55 tahun untuk pria, dan 65 tahun untuk wanita.

Remaja yang mengidap salah satu dari tiga masalah kesehatan ini cenderung memiliki pembuluh darah yang lebih tebal dan kaku — terutama pada pembuluh yang disebut arteri karotis — dibandingkan remaja tanpa masalah kesehatan yang disebutkan di atas. Arteri karotis, pembuluh yang terletak di leher, bertugas mengalirkan darah ke otak. Penebalan karotis dikaitkan dengan penurunan aliran darah, yang dapat menyebabkan risiko masalah kardiovaskular yang lebih berat, seperti stroke.

Hasil penelitian yang diterbitkan baru-baru ini dalam versi online dari Journal of American Heart Association menunjukkan bahwa remaja yang mengidap salah satu dari tiga gangguan kesehatan di atas lebih rentan terkena serangan jantung dan stroke di kemudian hari, yang bisa terjadi pada usia lebih muda dibandingkan mereka yang tak memiliki faktor risiko tersebut di masa remajanya. Studi terbaru ini memperkuat studi sebelumnya yang menemukan bahwa proses biologis yang mendahului serangan jantung dan penyakit kardiovaskular dimulai sejak masa muda, meskipun umumnya tidak menimbulkan gejala atau mengakibatkan penyakit sampai usia paruh baya atau setelahnya.

Diabetes Type 2

Penyakit Remaja (Diabetes)
Tangan memegang alat glukosa darah untuk mengukur gula darah – freepik/xb100

Namun demikian, risiko penuaan dini pembuluh darah ini lebih besar mengancam remaja dengan diabetes tipe 2 dibandingkan remaja yang hanya mengalami obesitas. Tak hanya itu, remaja pria non-kulit putih memiliki risiko lebih besar menderita penuaan dini pembuluh darah dibandingkan mereka yang berada di luar kategori ini.

Studi yang dilakukan para peneliti di University of Minnesota, University of Cincinnati, dan Louisiana State University ini melibatkan 141 remaja dengan berat badan normal, 156 remaja dengan obesitas, dan 151 remaja dengan diabetes tipe 2. Para peneliti mempelajari kondisi para remaja ini, yang rata-rata berusia sekitar 18 tahun saat penelitian dimulai, selama lima tahun.

Para peneliti menentukan kesehatan arteri karotis dengan dua cara. Pertama, ultrasonografi non-invasif yang mengukur ketebalan dua lapisan dalam pembuluh darah. Kedua, pengukuran kecepatan gelombang nadi yang menentukan ketebalan arteri dengan mengukur seberapa cepat darah mengalir. Peneliti melakukan kedua pengukuran tersebut pada awal penelitian, dan kembali melakukanya lima tahun kemudian.

“Penelitian yang kami lakukan menunjukkan bahwa perubahan lambat pada pembuluh darah yang mengarah pada perkembangan aterosklerosis dimulai sejak awal kehidupan,” kata penulis utama penelitian tersebut, Justin R. Ryder, Ph.D., pakar gangguan obesitas di University of Minnesota Medical School.

Aterosklerosis adalah penyempitan pembuluh darah perlahan yang disebabkan oleh penumpukan lemak, kolesterol, dan zat lain dan dikaitkan dengan proses penuaan alami. Ini meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, dan gangguan kardiovaskular lainnya.

Ryder menyebutkan bahwa obesitas harus ditangani secara serius seperti halnya diabetes tipe 2, karena sama-sama meningkatkan risiko penuaan dini pembuluh darah pada remaja, yang merupakan pencetus penyakit dalam kardiovaskular di masa dewasa mereka.

Obesitas

Penyakit Remaja (Obesitas)
Remaja Asia yang Obesitas sedang Berpikir – freepik/kwanchaichaiudom

Seperti halnya obesitas, diabetes tipe 2 dan tekanan darah tinggi sistolik dapat ditangani dengan pemeriksaan dan pengobatan yang berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk mengurangi risiko penuaan vaskular, di samping menurunkan risiko kesehatan lainnya. Tapi untuk tahap awal, kondisi ini harus diidentifikasi melalui screening.

Screening yang dilakukan terutama bertujuan untuk menemukan apakah ada tanda-tanda obesitas, dengan cara mencatat tinggi dan berat badan, yang diperlukan untuk penghitungan indeks massa tubuh. Semuanya diukur secara rutin secara berkala selama masa kanak-kanak hingga remaja.

Rekomendasi U.S. Preventive Services Task Force (USPSTF) yang dirilis pada 2017 mendesak praktisi perawatan kesehatan untuk menyeleksi remaja yang mengalami obesitas, agar bisa mendapatkan perawatan intensif yang komprehensif untuk mencapai berat badan ideal [lihat Screening Tests for Teens: Obesity].

American Diabetes Association merekomendasikan agar penyedia layanan kesehatan memeriksa anak-anak dan remaja yang kelebihan berat badan untuk mendeteksi tanda-tanda diabetes. Tes ini dapt dilakukan mulai usia 10 tahun, atau pada awal pubertas, jika anak-anak memiliki dua atau lebih faktor risiko tambahan.

Pemeriksaan dilakukan dengan tes glukosa darah puasa, hemoglobin A1c, atau uji toleransi glukosa oral dalam rentang waktu dua jam. Mereka yang memiliki faktor risiko ini termasuk anak-anak keturunan Penduduk Asli Amerika, Afrika Amerika, Latin, Asia Amerika, atau keturunan Kepulauan Pasifik; memiliki kerabat dekat dengan penyakit tersebut; dan memiliki kondisi atau gejala yang berhubungan dengan resistensi insulin.

Tekanan Darah Tinggi

Penyakit Remaja (Hipertensi)
Suster mengukur tekanan darah pasien – freepik/rawpixel.com

Gejala resistensi insulin termasuk tekanan darah tinggi, kadar lipid yang tidak sehat, sindrom ovarium polikistik, dan penggelapan serta penebalan kulit di sekitar leher, ketiak, dan lipatan kulit [lihat Screening Tests for Children: Diabetes and Screening Tests for Teens: Diabetes].

Penyakit tekanan darah tinggi pada remaja ditangani secara berbeda dengan darah tinggi pada orang dewasa. Pada tahun 2017, American Academy of Pediatrics merekomendasikan penggunaan tabel yang menunjukkan tekanan darah normal untuk remaja berdasarkan jenis kelamin dan tinggi badan mereka. Mereka menyarankan untuk membandingkan tekanan darah remaja (yang menjalani tes) dengan tabel tersebut. Jika seorang remaja memiliki tekanan darah lebih tinggi dari 90 hingga 95 persen remaja lain dalam kelompok usia dan tinggi badan yang sama, maka mereka kemungkinan menderita tekanan darah tinggi.

Para peneliti menyimpulkan bahwa hasil penelitian tersebut memberikan bukti lebih lanjut untuk mendukung pentingnya pencegahan melalui permainan olahraga dan pengobatan obesitas, diabetes tipe 2, dan tekanan darah tinggi pada remaja untuk membantu menunda atau mencegah penuaan dini pada pembuluh darah mereka. Itu dia artikel kesehatan tentang penyakit remaja dari Info Pasien. Jangan lupa terus tunggu kabar terbaru di situs ini!

Retno Wulandari
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanya senda gurau dan main-main. Sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, jika saja mereka mengetahui."